Selasa, 08 Februari 2011

Merapi, Gunung Teraktif di Dunia


Konon letusan besar Merapi yang pertama kalinya terjadi pada tahun 1006. Saking hebatnya letusan itu sampai-sampai membuat Candi Borobudur terkubur dan menghancurkan Kerajaan Hindu Mataram, Medang, yang ada saat itu.

Teori tentang letusan dahsyat Merapi pada tahun 1006 itu diungkapkan oleh ahli geologi Van Bemmelen (1949). Akibat dari letusan ini, sebagian puncak runtuh, melorot, dan longsor ke arah barat daya, tertahan oleh Perbukitan Menoreh, kemudian membentuk gundukan-gundukan bukit yang dikenal sebagai Gendol Hills

Benarkah pernah ada letusan besar Merapi? Di dusun-dusun Kadisoka, Kedulan, dan Sambisari (Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta) terdapat candi-candi kuno peninggalan masa Dinasti Sanjaya Mataram Hindu, yang ketika diketemukan terkubur oleh endapan lahar dan abu vulkanik setebal 6-8 meter.

Di tempat-tempat tersebut dapat dijumpai lapisan endapan abu vulkanik yang ketebalannya 20-60 sentimeter. Sementara itu, di daerah Borobudur tebal lapisan abu dan pasir vulkanik mencapai 200 sentimeter. Letusan kecil tidak mungkin menghasilkan lapisan abu setebal itu. Material-material vulkanik inilah yang menguruk danau yang dahulu mengitari Candi Borobudur. Konon, semula candi Buddha tersebut dibangun di tengah danau dan digambarkan bak bunga teratai terapung di tengah kolam. (Sejarah, Evolusi, dan Letusan Merapi, Oleh Sari Bahagiarti Kusumayudha, http://www.kompas.com-/kompas-cetak/0604/22/Fokus/2601459.htm.)

Sementara itu Candi Sambisari (abad ke-8), yang letaknya beberapa kilometer dari Candi Prambanan, ditemukan pada kedalaman sekitar tujuh meter. Karena bentuknya masih relatif utuh, tentulah orang menafsirkan bukanlah akibat gempa bumi yang menimbunnya, tetapi material gunung api yang menutupinya. Dari hasil penelitian diketahui material tersebut berasal dari bahan-bahan vulkanik. Dengan demikian jelas letusan Merapi begitu kuat, apalagi kalau dicermati, lokasi Candi Sambisari berada dalam radius belasan kilometer dari Merapi.

Selain Sambisari, candi-candi lain yang pernah menjadi korban Merapi adalah Kajangkoso, Asu, Pendem, Gebang, Morangan, Kedulan, Purwomartani, dan Pacitan.
Banyak benda arkeologis juga ditemukan di sekitar Merapi. Tak dapat dipungkiri, berkali-kali letusan Merapi telah mengubur kota-kota kuno di sekitarnya. Sayang, sampai kini para arkeolog belum pernah menemukan kota-kota kuno itu.
Kendalanya adalah banyak situs sudah tertutup lahan permukiman, perkebunan, dan persawahan penduduk. Karena itu, penelitian situs perkotaan membutuhkan pembiayaan dan waktu sangat besar. Ini karena untuk menemukan situs perkotaan, arkeolog harus melakukan ekskavasi secara horizontal dan bersifat massal. (Catatan Sejarah Letusan Merapi oleh Djulianto Susantio. Penulis adalah arkeolog http://www.sinarharapan.co.id/berita/0608/03/ipt02.html)

Merapi termasuk gunung api yang sering meletus sampai-sampai disebut sebagai gunung berapi paling aktif di dunia. Sampai Juni 2006, erupsi yang tercatat sudah mencapai 83 kali kejadian (ada yang menyebut 100 kali-pen). Secara rata-rata selang waktu erupsi Merapi terjadi antara 2 – 5 tahun (periode pendek), sedangkan selang waktu periode menengah setiap 5 – 7 tahun. Merapi pernah mengalami masa istirahat terpanjang selama 30 tahun, terutama pada masa awal keberadaannya sebagai gunung api.

Memasuki abad 16 kegiatan Merapi mulai tercatat cukup baik. Pada masa ini terlihat bahwa waktu istirahat terpanjang pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 sampai dengan tahun 1658.

Sejarah letusan gunung Merapi mulai dicatat (tertulis) sejak tahun 1768. Namun demikian sejarah kronologi letusan yang lebih rinci baru ada pada akhir abad 19. Ada kecenderungan bahwa pada abad 20 letusan lebih sering dibanding pada abad 19. Hal ini dapat terjadi karena pencatatan suatu peristiwa pada abad 20 relatif lebih rinci.
Pemantauan gunung api juga baru mulai aktif dilakukan sejak awal abad 20. Selama abad 19 terjadi sekitar 20 letusan, yang berarti interval letusan Merapi secara rata-rata lima tahun sekali. (http://rovicky.wordpress.com/2010/10/26/sejarah-gunung-merapi-sejak-700-000-tahun-yang-lalu/ sumber artikel : Badan Geologi)

Puncak Merapi Berubah Bentuk--Kondisi puncak Gunung Merapi pascaletusan beberapi kali mengalami perubahan seperti terlihat dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Minggu (31/10).

Letusan yang hebat terjadi pada 1672. Naskah klasik Babad Tanah Jawi mengatakan demikian, “Kala itu berbarengan dengan meletusnya Merapi, suaranya menggelegar menakutkan. Batu-batu besar beradu beterbangan bercampur api. Jika diamati seperti hujan batu. Lahar mengalir kencang di sungai. Banyak desa terkubur dan hancur. Banyak orang desa meninggal, rakyat Mataram ketakutan kena terjang lahar panas dan hujan abu”

Akibat letusan itu, langit di atas kerajaan Mataram (Islam) dikabarkan gelap gulita selama 24 jam. Peristiwa tersebut terjadi pada 4 Agustus 1672, ketika kapal Marken milik Belanda sedang berlayar di Samudra Indonesia, di sebelah Selatan Kedu. Letusan Merapi memakan korban 300 orang, belum termasuk sawah, ladang, dan harta benda lainnya.Diduga tipe letusan ketika itu adalah Plinian. (Catatan Sejarah Letusan Merapi oleh Djulianto Susantio (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0608/03/ipt02.html)

Di luar teori Van Bemmelen itu, Subandriyo mengatakan, erupsi dahsyat Merapi tercatat pada 1872. Kala itu, Merapi meletus dengan skala eksplosivitas 4, yang merupakan angka tertinggi untuk ukuran Merapi. Volume material yang dilontarkan hampir mencapai 100 juta meter kubik, dengan dampak hujan abu, awan panas, dan banjir lahar mencapai radius 20 km. Tak tercatat korban jiwa. (Berlaku Arif Untuk Gunung Merapi oleh Mohamad Final Daeng dan Thomas Pudjo Widyanto, Kompas Sabtu 30 Oktober 2010 http://www.egmca.net/kompas-berlaku-airf-untuk-gunung-merapi)

Letusan tahun 1872 dianggap sebagai letusan terakhir dan terbesar pada abad 19 dan 20. Letusan itu telah menghasilkan Kawah Mesjidanlama dengan diameter antara 480-600m. Letusan berlangsung selama lima hari dan digolongkan dalam kelas D. Suara letusan terdengar sampai Kerawang, Madura dan Bawean. Awanpanas mengalir melalui hampir semua hulu sungai yang ada di puncak Merapi yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan Gendol. (http://rovicky.wordpress.com/2010-/10/26/sejarah-gunung-merapi-sejak-700-000-tahun-yang-lalu/sumber artikel : Badan Geologi)

Tahun 1930-1931 Merapi meletus dengan tipe Plinian, menghasilkan aliran lava, piroklastika, dan lahar hujan, dengan korban 1.369 orang meninggal. Tahun 1954, kegiatan Merapi menghasilkan awan panas, hujan abu dan lapili, dan korban 64 orang meninggal.

Pada tahun 1961, terjadi aliran lava, awan panas, hujan abu, dan bahaya sekunder berupa banjir lahar hujan, enam orang meninggal sebagai korban. Pada saat itu Magelang dan sekitarnya sempat remang-remang dibalut abu dan debu vulkanik.

Pada tahun 1969, terjadi letusan cukup besar. Ada awan panas, letusan, guguran kubah lava, hujan abu, dan bom gunung api. Korban jiwa tercatat sebanyak tiga orang. Letusan tahun 1972-1973 termasuk tipe volkano, menghasilkan semburan asap hitam setinggi tiga kilometer di atas puncak, hujan pasir dan kerikil di Pos Babadan, guguran awan pijar ke Kali Batang sejauh tiga kilometer.

Pada hari Selasa, 22 November 1994, sekitar pukul 10.00 selama lebih kurang dua jam Merapi mengeluarkan wedus gembel-nya ke arah Kali Boyong. Aktivitas Merapi ini menelan 67 korban manusia.
Februari 2001, Merapi giat lagi. Seperti biasanya, aktivitas kali ini berupa guguran kubah lava membentuk awan panas. Arah guguran pada waktu itu ke selatan-barat daya. Kepulan wedus gembel-nya terlihat dari Kecamatan Depok yang berjarak 25 kilometer dari puncak

Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan hulu Kali Bebeng karena terkena terjangan awan panas. Erupsi 2006 ditandai dengan munculnya gempa dan deformasi pada bulan April dan Mei 2006. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan. Namun instruksi tersebut tidak ditaati. Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Untung tidak ada korban jiwa di kalangan penduduk, kecuali dua orang sukarelawan.

Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi. Pada 1 Juni, terjadi hujan abu dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat selama tiga hari di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini.

Pada 8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari itu tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.

Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar selama 100 tahun terakhir, mengancam 32 desa dan memakan korban nyawa lebih dari 200 jiwa (angka masih dapat berubah), meskipun pengamatan terhadap Merapi telah sangat intensif dan manajemen pengungsian telah berfungsi relatif baik (Sejarah, Evolusi, dan Letusan Merapi, Oleh Sari Bahagiarti Kusumayudha, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/22/Fokus/2601459.htm. Dr Ir Sari Bahagiarti Kusumayudha MSc adalah Ketua Penyelenggara Volcano International Gathering 2006 dan Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta)

Tidak ada komentar:

Artikel Terbaru