Kamis, 30 Desember 2010

Taman Gantung Babylonia

Bagian Kota Babylon yang dianggap paling menakjubkan oleh manusia modern sekarang ini adalah Taman Gantung. Taman ini dibangun oleh Raja Nebukadnezar II, yang memerintah kota selama 43 tahun. (Ada cerita alternatif yang kurang dapat dipercaya bahwa taman itu dibangun oleh Ratu Assyria Semiramis selama lima tahun pemerintahannya mulai tahun 810 BC).

Keberadaan Taman Gantung menunjukan tingginya kekuasaan dan pengaruh kota dan Raja Nebukadnezar II. Selain membangun Taman Gantung, dia juga membangun banyak kuil yang indah, jalan-jalan yang lebar, istana dan dinding yang menakjubkan.

Menurut perkiraan, Taman Gantung dibangun untuk menghibur istri Nebukadnezar II, Amyitis yang rindu kampung halaman. Amyitis, saudara perempuan Raja Medes, dinikahi Nebukadnezar untuk menciptakan penyatuan antar bangsa. Kampung halaman tempat pemaisuri berasal, tanahnya hijau, rimbun dan bergunung-gunung. Sementara di kota Babylon dia mendapatkan tanah yang datar, permukaan tanah Mesopotamia yang kering terbakar teriknya matahari, yang membuatnya tertekan. Raja memutuskan membuat tiruan tanah kelahiran pemaisuri dengan membangun gunung buatan dengan taman-taman yang berunda-undak.

Sekarang ini orang hanya bisa bertanya-tanya apakah Ratu Amyitis gembira dengan hadiah yang fantastis itu, atau apakah ia tetap ingin tinggal di pegunungan yang hijau di tanah kelahirannya. Karena tak ada cerita yang lebih detil tentang ini. (http://www.cleveleys.co.uk)

Taman Gantung mungkin tidak sungguh-sungguh ‘tergantung’ dalam pengertian digantung pada kabel atau tali. Nama itu berasal dari terjemahan yang tidak tepat kata Yunani kremastos atau kata latinnya pensilis, yang tidak berarti bergantung, tapi berada di atas seperti halnya tanah berundak atau balkon.

Ahli geografi Yunani Strabo, yang melukiskan taman itu pada abad pertama SM menulis, itu terdiri dari teras-teras yang berundak menuju ke atas, dan berakhir pada pilar-pilar yang berbentuk kubus. Lalu ada lekukan yang diisi dengan tanah supaya pohon-pohon dengan ukuran paling besar dapat ditanam. Pilar-pilar, kubah, dan teras dibangun dengan batu bata dan aspal yang dibakar.”

Diodorus Siculus, seorang sejarahwan Yunani, menyatakan bahwa tempat dimana taman itu berdiri terdiri dari lempengan batu besar yang ditutup dengan lapisan rumput, aspal, dan ubin. Di atas ini diletakan penutup dengan lembaran timah, yang kalau ada air yang merembes melalui tanah tidak membusukan fondasi. Di atas semua itu diletakan tanah dengan kedalaman yang pas, yang cocok untuk pertumbuhan pohon-pohon besar. Ketika tanah yang ditimbun sudah rata dan datar, ditanamlah semua jenis pohon, yang keagungan dan keindahannya membuat senang pengunjung.."

Taman Gantung Babylonia berisi aneka tanaman dan binatang yang didatangkan dari seluruh dunia. Babylonia, selama pemerintahan Raja Nebukadnezar, telah menaklukan dan memerintah hampir semua bagian dunia yang sudah dikenal pada saat itu. Ia memanfaatkan daerah-daerah taklukan untuk merancang taman itu dengan dekorasi yang membuatnya menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia.

Sejarahwan Yunani Kuno, Strabo dan Philo, memberikan deskripsi Taman Gantung Babylonia itu sebagai berikut:
"Taman itu berbentuk segi empat, dan masing-masing sisi panjangnya 4 plethra. Itu terdiri kubah-kubah berbentuk lengkungan yang terletak pada pondasi seperti kubus. Pendakian ke teras lantai yang lebih atas dilakukan melalui sebuah tangga..." "Taman Gantung mempunyai tanam-tanaman yang ditanam di atas tanah, dan akar-akar pohon lebih banyak tertanam di teras atas daripada di tanah. Semua kumpulan tanaman itu ditunjang kolom-kolom batu.... Aliran air mengalir dari sumber yang ada di atas turun ke bawah melalui saluran-saluran yang landai. Aliran air ini mengairi seluruh taman yang membasahi akar-akar tanaman dan menjaga seluruh area itu tetap lembab. Karena itu rumput-rumput tetap hijau dan daun-daun pohon tumbuh lebat pada cabang-cabang yang lentur. Karya seni kerajaan yang mewah dan peninggalan yang paling menakjubkan adalah pekerjaan penanaman pohonnya.”

Diodorus Siculus, sejarawan Yunani pada masa itu, menggambarkan hebatnya Taman Gantung. Menurut Diodorus, lebar taman itu 400 kaki (sekitar 130 meter), panjangnya 400 kaki, sedangkan tingginya lebih dari 80 kaki (sekitar 26 meter). Padahal, tembok Kota Babylonia, menurut Herodotus, 320 kaki (sekitar 106 meter).

Taman Gantung membangkitkan sebuah gambaran yang romantis tentang tanaman hijau yang lebat dan bunga-bunga aneka warna yang turun dari langit. Keagungan pemandangan ini yang membuat masyarakat dunia memasukannya ke dalam 7 Keajaiban Dunia.

Masalahnya saat ini Taman Gantung tidak ada. Seluruh eksistensinya juga masih diperdebatkan. Karena kurangnya dokumen dalam catatan sejarah, banyak yang ragu apakah Taman Gantung itu memang benar-benar pernah ada. Taman Gantung nyaris digolongkan buah imaginasi orang-orang zaman dulu, sebuah cerita yang dinyatakan dalam wilayah antara mitos dan sejarah kuno.

Dalam tulisan-tulisan kuno Taman Gantung Babylonia pertama-tama digambarkan oleh Berossus, seorang pendeta Chaldaean (sebuah dinasti di dalam sejarah Babylonia) yang hidup pada akhir abad ke-4 BC. Dalam buku Babyloniaca, yang ditulis sekitar 280 SM, ia menggambarkan taman dan ciri-cirinya kepada Raja Babylonia Nebukadnezar II. Banyak sejarahwan Yunani yang menyediakan gambaran yang rinci tentang taman itu, dengan mengutip karya Berossus, atau dari pemikiran orang-orang kuno lainnya. (http://ancienthistory.suite101.com)

Tidak ada komentar:

Artikel Terbaru