Sabtu, 28 April 2012

Presiden Argentina, Cristina Fernandez de Kirchner Cantik, Visioner, dan Bernyali

Cantik, visioner, dan bernyali, itulah Presiden Argentina, Cristina Fernandez de Kirchner. Ia menjadi sosok yang menyita perhatian internasional karena keberaniannya menasionalisasi secara sepihak perusahaan minyak YPF milik Repsol Spanyol,.


Keberpihakan Cristina  pada kepentingan bangsanya sendiri berhadapan dengan korporat asing tak diragukan lagi. Ia dianggap sebagai penjelmaan Evita Peron, istri Juan Peron, tokoh Argentina tahun 40 - 50-an, yang selain cantik, berpenampilan modis, tapi juga sangat pro terhadap kepentingan masyarakat miskin dan buruh.

Cristina Fernandes mengatakan, sejak operasi minyak dipegang asing, produksi minyak Argentina tak pernah naik padahal di sisi lain telah menghasilkan deviden besar untuk negara asing. Bahkan ketika rakyat Argentina membutuhkan minyak, perusahaan asing di negerinya malah mengekspornya ke luar negeri.  Sejak minyak Argentina dikuasai asing pada tahun 1992, impor BBM dan gas Argentina terus mengalami kenaikan hingga berkisar 150% pertahunnya dan memaksa negara mengeluarkan anggaran 9 miliar dollar AS,

Tindakan Cristina dikecam negara-negara Eropa dan AS yang berhaluan kapitalis. Bahkan Menlu AS, Hillary Clinton menyebut Cristina mengalami gangguan mental. Pilar kapitalis lainnya, Bank Dunia juga sudah menyuarakan kecaman.

Tak ketinggalan pemerintah Spanyol juga mengeluarkan kecaman dan berjanji akan melakukan pembalasan. Tapi anehnya gerakan rakyat Spanyol yang sering disebut “Los Indignados” malah menyatakan dukungan terhadap langkah Argentina. “Hal pertama yang saya mau katakan adalah bravo untuk pemerintah Argentina,” kata Pablo Gomez, salah seorang jubir gerakan Los Indignados seperti dikutip TeleSUR.

Gomez mengingatkan, langkah yang diambil pemerintah Argentina tidak merugikan kepentingan rakyat Spanyol, melainkan kepentingan elit Spanyol. Ia mengecam tindakan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, yang mengarahkan histeria media untuk mendiskreditkan pemerintah Argentina.
“Mariano Rajoy membela kepentingan bisnis besar, bukan kepentingan rakyat Spanyol,” katanya.

Tindakan nasionalisasi yang dilakukan Cristina mendapatkan dukungan yang luar biasa dari rakyat Argentina. Sebuah jajak pendapat di Argentina menyebutkan bahwa 90% rakyat negeri itu mendukung langkah pemerintah menasionalisasi YPF.  Sebelum itu  Cristina di mata rakyat Argentina memang sangat populer. Buktinya ia terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya dengan selisih suara yang sangat besar dibanding rivalnya. Dukungan juga mengalir dari sesama negara-negara Amerika Latin yang sudah lama meninggalkan paham neolib seperti Brazil, Venezuela, Bolivia, dan Uruguay.

Langkah Cristina  menasionalisasikan perusahaan minyak Spanyol  memang merupakan kerugian besar bagi negara-negara kapitalis. Pada dekade 90-an, Argentina termasuk negara terdepan dalam menerapkan kebijakan Neo Liberalisme di antara negara-negara Amerika Latin. Tapi sistem ekonomi tersebut telah menyebabkan kebangkrutan bagi Argentina pada 1999.

Argentina  kini  memilih jalan lain. Argentina melihat di bawah Presiden Hugo Chavez Venezuela sejak 12 tahun lalu berhasil menasionalisasi industri minyak dan gasnya. Hal yang sama terjadi enam tahun lalu di Bolivia di bawah Evo Morales dan terakhir tiga tahun lalu di Ekuador.  Kepada wartawan, Fernandez mengatakan, “kamilah satu-satunya negara Amerika Latin yang tidak mengelola sendiri sumber daya alamnya.” 

Ketika blok migas mereka dikuasai perusahaan-perusahaan AS,  Venezuela dan Bolivia dalam keadaan  melarat.  Setelah membuang paham neoliberalisme, kini kedua negara itu menjadi makmur. Venezuela sekarang mampu memproduksi minyak sebesar 3 juta barrel/hari dan menjual bensin hanya seharga Rp270/liter tanpa merasa rugi. Ini beda dengan Indonesia yang harganya Rp4500/liter saja ribut sekali dengan mengatakan itu rugi.

Tindakan nasionalisasi minyak sebetulnya dipelopori oleh  Arab Saudi pada 1974. Mereka  sebelumnya melarat karena diporoti perusahaan minyak asal AS, Aramco (Arabian American Oil Company). Tapi kini Arab Saudi makmur berkat kebijakan Raja Faisal yang melakukan nasionalisasi.

Sudah saatnya gerakan nasionalisasi yang terjadi di negara-negara Amerika Latin memberikan inspirasi kepada Indonesia. Menurut data dari Kementerian ESDM (2008) pada sektor hulu, tercatat kontraktor asing menguasai 329 blok migas di Indonesia atau sekitar 65 %, sedangkan perusahaan nasional hanya 24,27%. Sementara sisanya dikuasai konsorsium dengan perusahaan multinasional. Sekaran sudah hampir 85% minyak dan gas bumi kita dikuasai oleh asing. Mereka semua merupakan kekuatan korporasi multinasional asing yang memiliki watak kapitalis tulen.Tak mengherankan kalau Indonesia saat ini menghadapi masalah energi yang ruwet seperti yang dialami oleh  Argentina.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Recent Post

Artikel Paling Banyak Dibaca Sepanjang Waktu